Kamis, 07 April 2011

UJIAN TENGAH SEMESTER MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

1. Dalam mengembangkan teori suatu penelitian dibutuhkan landasan filsafat yang kuat dan jelas untuk menentukan arah kemana pengembangan teori dilakukan. Coba saudara buat suatu bentuk pengembangan teori yang didasarkan kepada filsafat sesuai dengan bidang penelitian yang saudara kembangkan

Jawab :

A. Pendahuluan
Ada Sebagian orang yang mendewa - dewakan ilmu sebagai satunya - satunya sumber kebenaran, biasanya mereka tidak mengetahui hakikat ilmu yang sebenarnya. Demikian juga sebaliknya ada sebagian orang yang memalingkan muka dari ilmu, mereka adalah orang yang tidak mau melihat kenyataan betapa ilmu telah membentuk peradaban sebagaimana kita rasakan dan alami sekarang ini.



Pendidikan sebagai salah satu komponen kehidupan yang asasi, telah berperan dalam menghasilkan kemampuan manusia dalam menemukan, mencari dan mengembangkan ilmu. Bahkan dengan pendidikan, telah jauh mengembangkan peradaban yang melebihi kapasitas manusia untuk menguasai dunia. Perkembangan ilmu yang demikian puncak, mendorong manusia untuk menguasainya, dan siapa yang tidak memilikinya maka dia akan jadi obyek manusia cerdas. Kehidupan demikian rumit untuk dianalisis hanya oleh satu jalan pemikiran. Adalah ketakaburan yang tidak berdasar, apabila menganggap bahwa ilmu adalah alpa dan omega dari kebenaran. Banyak sumber kebenaran selain ilmu, yaitu agama, filsafat, seni, dan lain – lain pengetahuan. Einstein mengatakan : “ Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh ”. Dengan demikian, kebenaran sangat bergantung pada pendekatan yang digunakan dan dasar pengetahuan yang mendasarinya. Dengan demikian, jika kita akan menganalisis suatu permasalahan, maka harus ditetapkan terlebih dahulu sumber dan dasar pemikiran kita, agar orang lain memahami peta dan paradigma pemikiran yang kita gunakan. Sebagai salah satu kegiatan pendidikan, yang merupakan aplikasi keilmuan, maka proses pendidikan tidak lagi natural (alami), tetapi menjadi suatu bidang / lapangan kajian keilmuan, sehingga pendidikan seolah – olah sudah lepas dari tanggung jawab hakiki orang tua, tetapi lebih banyak pada tanggung jawab guru di sekolah. Apabila konteks pendidikan menjadi kajian keilmuan, maka tanggung jawab kita adalah mendasarkan telaahan dan pengembangan pendidikan berbasis keilmuan. Banyak kegiatan pendidikan yang belum dianalisis berdasar pada keilmuan, sehingga pendidikan kurang berkembang sebagaimana harapan. Untuk memahami hakikat ilmu pendidikan, maka kita harus memahami landasan filosofisnya, yaitu filsafat ilmu pendidikan. Salah satu fakta empiric dalam proses pendidikan, adalah adanya komunikasi pendidikan antara guru dan siswa di kelas. Komunikasi yang dibangun merupakan pendekatan dan implementasi dari berbagai pendekatan keilmuan. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas menjadi penting, karena merupakan upaya menemukan model dan prosedur baru yang lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. Pengertian PTK ( Penelitian Tindakan Kelas ) atau Classroom Action Research berkembang dibeberapa negara maju, antara lain Inggris, Amerika, Australia, dan Canada. Penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar – mengajar di kelas. McNiff (1992;1) dalam bukunya menjelaskan bahwa PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri, hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, pengembangan keahlian mengajar, dan lain sebagainya. Dengan PTK, guru dapat meneliti sendiri terhadap praktek pembelajaran yang dilakukannya di kelas, guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari interaksinya dalam proses pembelajaran. Dalam PTK, guru dan dosen secara kolaboratif dapat melakukan penelitian terhadap proses dan atau produk pembelajaran secara reflektif di kelas. Dengan demikian, PTK dapat memperbaiki praktek – praktek pembelajaran menjadi efektif. Apabila proses kegiatan pendidikan di kelas yang disebut dengan pembelajaran dilakukan penelitian tindakan kelas, akan memunculkan reaksi tertentu baik dari siswa maupun guru lainnya, sehingga situasi pendidikan tidak menjadi original, tetapi berubah menjadi situasi yang dibuat buat, seolah ada rekayasa yang tidak pas dengan situasi pembelajaran. Oleh karena itu, melakukan PTK harus didasari oleh asumsi – asumsi yang mencakup berbagai pendekatan, baik pendekatan filosofis maupun pendekatan ilmiah dan pendekatan yang memadukan kedua pendekatan tersebut. Salah satu pendekatan yang mendasari bagaimana PTK dilakukan dengan benar adalah pendekatan filosofis. Dalam pendekatan ini, ada tiga aspek yang menjadi kajian sebuah pendekatan filsafiah, yaitu aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Ontologis keilmuan membahas dan menelaah tentang obyek kajian yang menjadi pembahasannya. Epistemologis keilmuan membahas dan menelaah tentang metodologi telaahan untuk mencapai kebenaran obyektif. Sedangkan aksiologis keilmuan membahas tentang nilai kegunaan dari hasil kajian dan metodologinya.


B. Rasional
Pertanyaan pretama yang diajukan adalah mengapa harus ada studi filsafat PTK ? Setiap mengkaji suatu permasalahan yang berkaitan dengan bidang kemanusiaan, akan banyak melibatkan aspek – aspek yang bukan hanya bersifat fisik belaka, tetapi ada aspek psikhis dan aspek rohaniah. Aspek psikhis bisa ditelaah secara ilmiah, sedangkan aspek roh ditelaah oleh agama maupun filsafat. Kajian yang demikian menjadi penting, karena dalam PTK bukan hanya mempelajari pengaruh tindakan guru dalam pembelajaran, tetapi menyangkut aspek potensi yang ada dalam diri anak, dan sikap kepribadian guru yang tampil di depan siswanya yang ikut mempengaruhi proses komunikasi pembelajaran. PTK sebagai penelitian yang bersifat reflektif, melakukan tindakan – tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek – praktek pembelajaran di kelas secara lebih professional. Oleh karena itu, PTK terkait erat dengan permasalahan praktek pembelajaran sehari – hari yang dihadapi oleh guru. Apabila praktek yang dilakukan hanya bertumpu pada tindakan - tindakan yang tanpa nilai dan tidak berorientasi pada keunggulan martabat manusia, maka PTK menjadi tidak memiliki nilai dan arti dalam pendidikan di sekolah. Kajian obyek PTK secara material, adalah bagaimana peserta didik dapat difahami sebagai subyek yang ikut menentukan proses pembelajaran dan tercapai atau tidaknya tujuan yang ditetapkan. Secara formal, PTK lebih memfokuskan pada situasi komunikasi / pergaulan pendidikan di kelas dengan berbagai tindakan guru untuk mempengaruhi siswa untuk memahami pesan komunikasinya. Situasi pendidikan berbeda dengan situasi bermain sandiwara, yang sudah diketahui apa yang akan terjadi setelah permainan selesai, karena semua direkayasa dan semua pemain tahu harus melakukan apa, berkata apa, dan kapan peserta mengakhiri permainannya. Tidak ada pengaruh berarti dalam kehidupan sandiwara. Situasi ini berbeda dengan situasi pendidikan, yang mencoba merekayasa persiapannya, teknologinya, system penilaiannya, dan tehnik pengembangannya, tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi pada siswa, apa mereka ada perubahan atau belum ? Dengan demikian, dibutuhkan berbagai pendekatan yang tepat untuk dapat memprediksi perilaku – perilaku peserta didik dan juga guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang mendidik. Oleh Karena itu, dibutuhkan refleks dalam setiap tindakan yang berbasis analisis keilmuan, apakah aspek psikologisnya, sosiologisnya, antropologisnya, aspek metodologisnya, aspek politisnya, dan aspek - aspek kehidupan lainnya. Mengapa PTK Dibutuhkan Oleh Guru ? Masih banyak guru yang dibawah standar kompetensi professional dalam melakukan proses pembelajaran, sehingga banyak tindakan guru yang sia - sia karena tidak mencapai tujuan yang diharapan. Untuk mengetahui tindakan apa yang keliru dalam pembelajaran, mengapa siswa tidak bergairah dalam belajar, dan mengapa tujuan pembelajaran tidak tercapai, dibutuhkan PTK sebagai salah satu upaya yang dapat memperbaiki kinerja guru dikelasnya.

C. Pembahasan
a. Dasar Ontologi Ilmu
Aktivitas pembelajaran sebagai obyek empiris merupakan abstraksi yang disederhanakan. Penyederhanaan ini merupakan pembatasan dari seluruh kegiatan proses pendidikan yang begitu kompleks. Ilmu tidak bermaksud “memotret” atau “mereproduksi” suatu kejadian tertentu dan mengabstraksikannya dalam bahasa keilmuan. Ilmu bertujuan untuk mengerti mengapa hal itu terjadi, dengan membatasi diri pada hal - hal yang asasi. Dengan perkataan lain ilmu bermaksud memeras hakikat obyek empiris tertentu, untuk mendapatkan inti sari yang berupa pengetahuan mengenai obyek tertentu. Pengetahuan manusia dapat dikategorikan ke dalam pengetahuan kealaman, engetahuan sosial, humaniora, dan agama. Pengetahuan ke halaman memiliki tatanan yang baku, pasti dan sistematik. Contoh; kejadian hujan akan selalu didahului oleh adanya awan, angin, dan turun hujan. Tidak pernah terjadi dalam alam ini, air hujan turun lebih dulu, baru berawan dan angin. Hal ini sangat berbeda dengan pengetahuan sosial yang relatif tatanannya kurang baku. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu penelitian yang dapat memberikan sumbangan keilmuan yang mendekati kebenaran obyektif. Untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, ilmu membuat beberapa andaian (asumsi) mengenai obyek – obyek empiris. Pernyataan asumtif ini akan memberi arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan. Secara rinci ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai obyek empiris, yaitu :

1. Menganggap obyek – obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain,
Umpamanya dalam hal bentuk,
struktur, sifat dan sebagainya. Berdasarkan asumsi ini melahirkan
konsep klasifikasi, kemudian muncul taxonomi. Berdasarkan konsep taxonomi
melahirkan konsep komparatif dan kuantitatif. Linnaeus (1707 – 1778) sebagai tokoh
taxonomi pada hewan dan tumbuh - tumbuhan.

2. Asumsi bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
Kegiatan keilmuan berupaya mempelajari tingkah laku suatu obyek dalam suatu
keadaan

tertentu. Hal ini tidak mungkin dilakukan bila obyeknya selalu berubah – ubah tiap
waktu. Walau demikian kita tidak bisa menuntut adanya kelestrian yang absolute,
sebab
alam mengikuti perjalanan waktu dan tiap benda akan mengalami perubahan.

3. Asumsi determinisme, menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian
yang
bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan \
urutan
- urutan kejadian yang sama. Sebagai contoh; setiap benda yang terbakar akan
mengeluarkan asap, sate yang dibakar akan mengeluarkan bau yang merangsang, dan
lain
sebaginya. Namun ilmu tidak menuntut adanya hubungan sebab akibat dalam setiap
kejadian, seperti tidak harus kalau ada awan pasti ada hujan. Determinisme dalam
pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistic), dan
statistika
merupakan metode yang menyatakan adanya hubungan probabilistik antara gejala -
gejala dalam penelaahan keilmuan. Oleh karena itu dasar dari statistika adalah teori
probabilistic.

b. Dasar Epistemologi Ilmu
Teori ilmu pengetahuan yang disebut dengan epistemology, membahas secara mendalam tentang segenap proses yang menjadi kajian untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu diperoleh melalui proses tertentu yang disebut dengan metode keilmuan. Ilmu disebut juga dengan ilmu pengetahuan, memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan jenis pengetahuan lain. Penelitian Tindakan Kelas, bukan cabang ilmu, tetapi suatu aplikasi dari metode penelitian untuk mengungkap fakta yang berkaitan dengan praktek pembelajaran di kelas. Karakteristik ilmu adalah empirik, deskriptif, analitik dan asumtif. Berbeda dengan filsafat yang memiliki karakteristik, komprehensif, kontemplatif, normative dan radikal. Oleh karena perbedaan karakteristik antara ilmu dengan filsafat, maka ilmu lebih berkonsentrasi pada obyeknya yang lebih spesifik, empirik dan obyektif. Berdasarkan karakteristik ilmu tersebut, maka metode ilmiah yang digunakan ada dua aliran, yaitu rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme menyatakan bahwa ide tentang kebenaran sebenarnya sudah ada. Pikiran manusia dapat mengetahui idea tersebut, namun tidak menciptakan dan tidak mempelajari lewat pengalaman. Idea kebenaran diperoleh melalui berfikir secara rasional, dan kebenaran yang diperoleh bersifat koheren. Empirisme sebagai aliran dalam ilmu pengetahuan, menyatakan bahwa kebenaran hanya bisa diperoleh lewat pengalaman empiric yang terukur. Permasalahan yang muncul bahwa kebenaran yang menampakan diri dalam fakta belum bisa dijadikan dasar kebenaran, sebab masih membutuhkan pemaknaan dan tafsir dari subyek yang menelaah dan mempelajarinya. Selaras dengan sifat keilmuan yang logis, maka gabungan dari pendekatan rasional dan empiric menghasilkan metode ilmiah yang kuat.

c. Dasar Axiologi Ilmu
Setelah membicarakan tentang apa obyek ilmu, dan bagaimana kita bisa memperoleh ilmu yang benar, maka pada muaranya mau diapakan ilmu itu, untuk apa ilmu itu atau apa kegunaan ilmu itu. Dasar Axiology ilmu menginginkan bahwa ilmu memiliki nilai manfaat bagi kehidupan manusia, sebagaimana ditemukannya listrik untuk kesejahteraan manusia, ditemukannya matematika dan angka nol oleh filosof India, penemuan kompas, mesiu dan mesin cetak oleh para ilmuwan Cina, semua untuk kebermanfaatan kehidupan manusia. Sifat ilmu adalah netral, ilmu tidak mengenal baik dan buruk, dan sipemilik pengetahuan itu sendiri yang harus memiliki sikap jalan mana yang akan ditempuh dalam memanfaatkan kekuasaan yang besar itu, terletak pada system nilai si pemilik pengetahuan tersebut. Dengan demikian netralitas ilmu terletak pada epistemologinya, jika hitam katakanlah hitam, jika putih katakanlah putih, tanpa berpihak kepada salah satu selain kepada kebenaran yang nyata. Pada tataran axiologis, seorang ilmuwan harus mampu menentukan sikap sebagai wujud tingkat moralitas dalam menggunakan ilmu sebagai aturan dalam kehidupan.

d. Aplikasi Konsep terhadap PTK
Dalam uraian di atas, sepintas telah disinggung tentang PTK sebagai salah satu upaya untuk mengenali dan memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas. Marilah kita coba telaah tentang : Obyek PTK, metode, dan kegunaannya. Obyek PTK telah disinggung di atas, yaitu ada obyek material, dan obyek formal. Obyek materialnya adalah wujud subyek didik secara factual sebagai manusia yang memiliki potensi dan eksistensi. Sedangkan secara formal, obyek studi PTK adalah situasi komunikasi yang memiliki kualitas – kualitas yang penuh makna antara dua pribadi atau lebih. Secara metodologis, memberi kesempatan kepada peneliti untuk mengungkap tentang fakta yang sebenarnya yang secara obyektif dikemukakan oleh lebih satu orang, sehingga tingkat obyektivitasnya lebih terjamin. Permasalahannya kembali kepada pemilik pengetahuan, apakah memiliki sikap netralitas dan obyektif terhadap obyek telaahannya. Sedangkan dari aspek axiologisnya, bahwa PTK telah banyak membantu para guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara professional. Kualitas pembelajaran dapat dari aspek penguasaan materi pelajaran, penggunaan multi media yang memotivasi siswa bergairah untuk belajar, hubungan kewibawaan yang dimiliki guru di dalam kelas, nilai - nilai yang dijadikan sebagai acuan dalam menciptakan iklim belajar, suasana belajar dalam kelas, kelengkapan alat peraga dan fasilitas belajar, dan sikap dan kepribadian guru yang ditampilkan dihadapan siswa

2. Dalam pengembangan pembelajaran ada beberapa filsafat pendidikan, coba anda jelaskan masing – masingnya dalam kontek pembelajaran

Jawab :

Manusia lahir di dunia dalam keadaan hampa pengalaman, kecuali selama di dalam rahim. Perlahan namun pasti, ia mulai memiliki bangunan pengalaman yang diperolehnya dari berbagai sumber. Salah satunya, sekolah. Di sanalah, upaya mewariskan dan mentransformasi pengetahuan serta nilai kehidupan dilembagakan secara resmi. Dari realitas tersebut, tampaklah bahwa institusi pendidikan pun terikat ideologi tertentu, cerminan filsafat yang melandasinya. Karena berawal dari pemikiran manusia, aliran-aliran filsafat pendidikan pun beraneka ragam. Bisa dikatakan bahwa filsafat pendidikan merupakan filsafat terapan. Ia lahir untuk mencari jawab atas kebijakan dan tujuan pendidikan, teori kurikulum, dan proses perkembangan manusia melalui pendidikan. Beberapa aliran filsafat pendidikan yang utama adalah sebagai berikut.

A. Fundamentalisme
Aliran fundamentalisme terpengaruh aliran konservatisme. Ia memandang pendidikan sebagai proses regenerasi moral sehingga menilai pengetahuan dan kurikulum sebagai alat untuk membangun kembali masyarakat dalam pola kesempurnaan moral, seperti yang ada di masa silam.
Bagi aliran fundamentalisme, kesamaan di antara anak didik lebih penting ketimbang perbedaan yang ada. Bisa ditebak, metode pembelajaran yang diterapkan pun cenderung tradisional, semisal ceramah, hafalan, belajar dengan pengawasan ketat, dan diskusi terstruktur ketat. Semua itu harus dikendalikan oleh guru saja sebab siswa dianggap tak cukup tercerahkan untuk mengarahkan proses perkembangan intelektualnya sendiri.
Ada dua macam cabang dari aliran fundamentalisme.

1. Fundamentalisme Religius
Dijumpai dalam metode pendidikan di berbagai gereja Kristen yang terikat cara pandang kaku tentang realitas, sebagaimana realitas itu diwahyukan dalam al-Kitab.

2. Fundamentalisme Sekuler
Ditandai dengan komitmen yang sama kakunya dengan fundamentalisme religius, terhadap akal sehat yang disepakati mayoritas orang.
Aliran fundamentalisme dihubungkan dengan gagasan G.W.F. Hegel dan Emile Durkheim. Sementara penganutnya antara lain, Max Rafferty dan Robert Welch, dengan penekanan kuat terhadap nasionalisme dan patriotisme.

B. Intelektualisme
Intelektualisme berpendapat bahwa setiap manusia adalah makhluk rasional. Oleh karena itu, sekolah menjadi sarana penting untuk mengajarkan cara menalar dan menyalurkan kebijaksanaan yang tahan lama dari masa silam.
Dengan begitu, wewenang intelektual tertinggi di sekolah terletak pada kecerdasan intelektual, bahwa kebenaran bisa dipahami melalui proses penalaran. Sayangnya, pembelajaran ditekankan hanya pada aspek kognitif, melebihi aspek afektif dan sosial.
Paham intelektualisme masa lalu tersirat dari karya Plato dan Aristoteles. Sementara di masa modern yang sekuler, terlihat dari karya Robert Maynard Hutchins dan Mortimer Adler. Intelektualisme yang religius tertuang dalam karya William McGucken dan John Donahue.

C. Liberalisme
Liberalisme pendidikan merupakan produk dari tradisi empirisme dalam filsafat, yang meyakini bahwa sistem kebenaran bersifat terbuka. Tradisi ini menekankan jawaban yang diperoleh melalui tata cara rasional dan eksperimental.
Bagi aliran tersebut, masa kini dan masa depan adalah dua hal yang sangat penting. Begitu pula dengan perubahan atau pembaruan dalam berbagai bidang. Semua itu demi memajukan kebebasan individual dan memaksimalkan potensi manusia seutuhnya.
Oleh sebab itu, pendidikan bertujuan untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial. Caranya, dengan mengajarkan penyelesaian masalah secara mandiri. Maria Montessori dan John Dewey adalah beberapa pencetus liberalisme.

D. Liberasionisme
Bagi kaum liberasionis, sasaran puncak pendidikan berupa pembangunan kembali masyarakat mengikuti alur humanistik, dengan menekankan perkembangan dari potensi khas manusia. Dalam sistem pendidikan demikian, demokrasi haruslah stabil dan kokoh.
Sekolah harus menyediakan informasi dan keterampilan bagi para siswa, agar mereka belajar efektif bagi diri mereka sendiri. Sekolah juga mesti membantu murid untuk mengenali dan menanggapi kebutuhan bagi perombakan atau perubahan yang merupakan tuntutan zaman. Paulo Freire adalah salah satu tokoh pendukung liberasionisme.

E. Anarkisme
Anarkisme adalah cara pandang yang membela pemusnahan seluruh kekangan kelembagaan terhadap kebebasan manusia, sebagai jalan untuk mewujudkan potensi manusia seutuhnya. Menurut aliran tersebut, pendidikan bertujuan untuk membawa perombakan berskala besar dan segera dalam masyarakat dengan cara menghilangkan persekolahan wajib.
Sistem sekolah formal yang ada sekarang harus dihapuskan, lalu diganti dengan pola belajar sukarela dan mengarahkan diri sendiri. Artinya, akses yang bebas dan universal untuk memperoleh bahan atau materi pendidikan harus tersedia. Selain itu, kesempatan belajar mandiri harus tercipta bagi siapa saja, tanpa sistem pengajaran wajib.
Dari uraian tersebut, tampak jelas bahwa anarkisme menekankan pilihan bebas dan penentuan nasib sendiri, dalam sebuah latar belakang sosial yang sehat dan humanis.
Siswa berhak menentukan sendiri metode belajar yang sesuai dengan tujuan dan rancangan pembelajarannya. Selain itu, pembelajaran tak hanya bersifat kognitif atau afektif semata, namun menyeluruh secara total. Ivan Illich dan Paul Goodman adalah pencetus aliran anarkisme pendidikan.
Beberapa aliran filsafat pendidikan yang diuraikan memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, yang terbaik adalah berusaha menciptakan sistem yang humanis dan membebaskan, tanpa kehilangan akar hakiki manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan yang bijak menyikapi perubahan zaman.

3. Bagaimana kritik anda terhadap pandangan tiap – tiap aliran filsafat dalam penerapanya dalam kehidupan sehari – hari …

Jawab :
Fundamentalisme
Mengekang kebebasan untuk berkarya / bereksperimen dengan luas. Kehidupan menjadi statis tanpa ada ide untuk perubahan.
Intelektualisme
Ranah afektif dan sosial kurang berkembang
Liberalisme
Kebebasan individu yang berlebihan dapat merusak sendi – sendi moral dan tatanan budaya bangsa
Liberasionisme
Sulit dilakukan pda negara yang belum maju / berkembang, karena dituntut stabilitas ekonomi dan demokrasi.
Anarkisme
Sekolah formal tetap dibutuhkan karena selain sebagai lembaga pendidikan, dapat juga dipakai sebagai alat pemersatu dan pembangkit rasa sosial dan nasionalisme. Bila sekolah formal ditiadakan cenderung akan timbul sifat individualistis dan rasa sosial yang kurang

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda